Entries for September, 2008

18 Sep 2008

Doa Berbuka Puasa Kita Palsu?

Semasa Tazkirah Ramadhan selesai Solat Sunat Terawih semalam, Tuan Penceramah telah menarik perhatian pada hadirin berkenaan Doa Berbuka Puasa yang kita amalkan sepanjang bulan Ramadhan kali ini dan pada Ramadhan - Ramadhan yang telah lepas. Menurut beliau, Doa Berbuka Puasa itu berstatus Dho’if/Lemah (dan mungkin palsu). 

Beliau telah menyatakan bahawa Doa Berbuka Puasa yang kita amalkan ini berasal dari Hadith yang berstatus Dho’if, sedangkan terdapat satu lagi Doa Berbuka Puasa (yang sememangnya saya sendiri tak pernah dengar) yang berasal dari Hadith yang berstatus Hassan. 

Setelah selesai tazkirah, saya balik dan buat carian di google. Hanya ada dua site yg saya jumpa menyatakan berkenaan Doa Bebuka Puasa Palsu ini: MyIslam dan Jaringan Guru Online (JARGON)

Berikut adalah doa yang kita biasa amalkan: 

Hadith Pertama:

Maksudnya:
“Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Adalah Nabi SAW apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ‘Alim (maksudnya : Ya Allah ! untuk-Mu aku berpuasa dan atas rizkqi dari-Mu kami berbuka. Ya Allah ! Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui).

(Riwayat : Daruqutni di kitab Sunannya, Ibnu Sunni di kitabnya ‘Amal Yaum wa-Lailah No. 473. Thabrani di kitabnya Mu’jamul Kabir).

* Sanad hadith ini sangat Lemah/Dhaif

- Pertama:
Ada perawi yang bernama : Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang sangat lemah.
Kata Imam Ahmad bin Hambal : Abdul Malik Doh’if
Kata Imam Yahya : Kadzdzab (pendusta)
Kata Imam Ibnu Hibban : pemalsu hadith
Kata Imam Dzahabi : di dituduh pemalsu hadith
Kata Imam Abu Hatim : Matruk (orang yang ditinggalkan riwayatnya)
Kata Imam Sa’dy : Dajjal, pendusta.

- Kedua:
Di sanad hadith ini juga ada bapaknya Abdul Malik yaitu : Harun bin ‘Antarah. Dia ini rawi yang diperselisihkan oleh para ulama ahli hadith. Imam Daruquthni telah melemahkannya. Sedangkan Imam Ibnu Hibban telah berkata : munkarul hadith (orang yang diingkari hadithnya), sama sekali tidak boleh berhujjah dengannya. 
Hadith ini telah dilemahkan oleh Imam Ibnul Qayyim, Ibnu Hajar, Al-Haitsami dan Al-Albani, dll.

- Periksalah kitab-kitab berikut :
Mizanul I’tidal 2/666 
Majmau Zawaid 3/156 oleh Imam Haitsami 
Zaadul Ma’ad di kitab Shiam/Puasa oleh Imam Ibnul Qoyyim 
Irwaul Gholil 4/36-39 oleh Muhaddisin Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

 

Hadith Kedua:

Maksudnya :
“Dari Anas, ia berkata : Adalah Nabi SAW : Apabila berbuka beliau mengucapkan : Bismillah, Allahumma Laka Shumtu Wa Alla Rizqika Aftartu (maksudnya : Dengan nama Allah, Ya Allah karena-Mu aku berbuka puasa dan atas rizqi dari-Mu aku berbuka).
(Riwayat : Thabrani di kitabnya Mu’jam Shogir hal 189 dan Mu’jam Auwshath).

* Sanad hadith ini Lemah/Dha’if

- Pertama:
Di sanad hadist ini ada Ismail bin Amr Al-Bajaly. Dia seorang rawi yang lemah. 
Imam Dzahabi mengatakan di kitabnya Adl-Dhu’afa : Bukan hanya satu orang saja yang telah melemahkannya. 
Kata Imam Ibnu ‘Ady : Ia menceritakan hadith-hadith yang tidak boleh diturut. 
Kata Imam Abu Hatim dan Daruquthni : Lemah ! 
Sepengetahuan saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) : Dia inilah yang meriwayatkan hadith lemah bahwa imam tidak boleh adzan (lihat : Mizanul I’tidal 1/239). 

- Kedua :
Di sanad ini juga ada Dawud bin Az-Zibriqaan.
Kata Muhammad Nashiruddin Al-Albani : Dia ini lebih jelek dari Ismail bin Amr Al-Bajaly.
Kata Imam Abu Dawud, Abu Zur’ah dan Ibnu Hajar : Matruk.
Kata Imam Ibnu ‘Ady : Umumnya apa yang ia riwayatkan tidak boleh diturut (lihat Mizanul I’tidal 2/7)
Sepengetahuan saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) : Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan membawakan riwayat Thabrani ini di Risalah Puasa tapi beliau diam tentang derajad hadith ini ?

 

Hadith Ketiga:

Maksudnya :
“Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi SAW. Apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : Allahumma Laka Sumtu wa ‘Alaa Rizqika Aftartu.”
(Riwayat : Abu Dawud No. 2358, Baihaqi 4/239, Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Suni) Lafadz dan arti bacaan di hadith ini sama dengan riwayat/hadith yang ke 2 kecuali awalnya tidak pakai Bismillah.)

* Sanad hadith ini mempunyai dua penyakit.

- Pertama :
“MURSAL, karena Mu’adz bin (Abi) Zur’ah seorang Tabi’in bukan shahabat Nabi SAW. (hadith Mursal adalah : seorang tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi SAW, tanpa perantara shahabat).

- Kedua:
“Selain itu, Mu’adz bin Abi Zuhrah ini seorang rawi yang MAJHUL. Tidak ada yang meriwayatkan dari padanya kecuali Hushain bin Abdurrahman. Sedang Ibnu Abi Hatim di kitabnya Jarh wat Ta’dil tidak menerangkan tentang celaan dan pujian baginya”. 

 

DOA BERBUKA PUASA YANG DI AMALKAN OLEH RASULULLAH SAW

Berikut adalah Doa Berbuka Puasa yang diamalkan oleh Rasullah SAW.

Ia adalah berdasarkan hadith berikut:

Maksudnya :
“Dari Ibnu Umar, adalah Rasulullah SAW, apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan : DZAHABAZH ZHAAMA-U WABTALLATIL ‘URUQU WA TSABATAL AJRU INSYA ALLAH (maksudnya : Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala, Inysa allah).

(Hadith HASAN, riwayat : Abu Dawud No. 2357, Nasa’i 1/66. Daruquthni dan ia mengatakan sanad hadith ini HASAN. Hakim 1/422 Baihaqy 4/239) Al-Albani menyetujui apa yang dikatakan Daruquthni.!

rss feed

technorati fav

Archives


Links


Meta